Deng Xhiao Ping memulai kebangkitan Cina dengan membangun desa, kata orang.
Suharto memulai pembangunan Indonesia dengan titik berangkat yang sama. Namun hingga Repelita VI (1994-1999), sektor pertanian belum menjadi sektor yang benar-benar kuat, walaupun Pemerintah Indonesia mengklaim telah mencapai swa sembada pangan pada tahun 1984. Dan pada saat Indonesia dicanangkan untuk tinggal landas, Bapak Pembangunan itu dilengserkan oleh rakyat sekarat karena hancurnya ekonomi dan muak dengan tingkah laku kroni dan keluarganya.
Dua dasawarsa lebih setelah reformasi, apakah pembangunan telah kembali ke arah yang benar? Beberapa orang mulai bersuara agar Indonesia meniru Deng. Namun, dengan hanya 20% dari rata-rata anggran tahunan daerah yang tersisa untuk pembangunan, hampir tidak ada uang tersisa untuk pembangunan desa.
Kehadiran PNPM Perdesaan secara umum disambut hangat oleh masyarakat desa. Sesuai dengan pernyataan kebanyakan warga desa, beberapa Bupati bahkan terus terang mengakui PNPM Perdesaan menjadi satu-satunya sumber dana pembangunan di perdesaan. Tetapi cukupkah hanya PNPM? Seriuskah pemerintah dalam upaya untuk memberdayakan dan membangun desa?
Dengan investasi tahunan sekitar 1% dari anggaran tahunan pemerintah, atau kurang dari Rp. 100.000/ jiwa penduduk desa, PNPM bagaimanapun masih terlalu kecil dan by program design memang hanya menghasilkan prasarana dasar tingkat tersier.
Jaringan irigasi yang mengering dan jalan-jalan arteri yang rusak terus menghambat potensi ekonomi desa-desa untuk sepenuhnya bangkit.
Pada masa kampanye yang lalu, lawan-lawan politik SBY pernah menuduh Presiden menggunakan PNPM lebih sebagai alat kampanye gratis daripada benar-benar sebagai instrumen penanggulangan kemiskinan. Saya tidak tertarik untuk membahas aspek politik dari PNPM, karena PNPMN Perdesaan toh bermula dari Program Pembangunan Kecamatan (PPK) yang lahir di masa Suharto dan telah berlangsung sampai sekarang. Melalui blog ini saya hanya ingin mencurahkan apa yang ada di kepala saya bagaimana sebaiknya pembangunan desa ke depan nanti, dengan atau tanpa PNPM Perdesaan.

No comments:
Post a Comment